Tepat pada hari Kamis/03 Pebruari 2011 pk. 00.00 warga keturunan Tionghoa di seluruh penjuru dunia menyambut pergantian tahun, yang menurut penanggalan Imlek (penanggalan bulan) akan memasuki tahun 2562 yang juga disebut sebagai Tahun Kelinci. Asal-usul hari raya Imlek (sin cia) berasal dari negara Tiongkok. Di sana dahulu kala di propinsi Hokkian, saat musim dingin, sering dilanda hujan besar dan badai salju, sehingga beberapa daerah dataran rendah sering mengalami kebanjiran yang menyebabkan penduduk mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. Sebagai bekal, mereka membuat semacam kue yang terbuat dari beras sedemikian rupa sehingga dapat tahan lama dan tidak basi. Kue tersebut hingga sekarang menjadi tradisi setiap menjelang sin cia. Kue ini dibuat dalam berbagai ukuran dan disusun dalam keranjang sehingga disebut Kue Keranjang.Seminggu sebelum sin cia, mereka biasanya mengadakan upacara sembahyang di hadapan altar Dewa Dapur (Caokun Kong). Konon, setiap akhir tahun, caokun kong naik ke sorga untuk melaporkan baik-buruknya perbuatan dari keluarga pemilik altar. Kesempatan itulah dipergunakan oleh mereka untuk bermohon kepada caokun kong agar seisi keluarganya dilaporkan hal-hal yang baik saja. Untuk maksud tersebut, biasanya dalam upacara sembahyang selalu disajikan makanan berupa manis-manisan (supaya caokun kong melaporkan yang manis-manis saja!).Kemudian satu hari menjelang sin cia di waktu pagi, diadakan upacara sembahyang kepada para leluhur di hadapan altar sembahyang di rumah masing-masing. Pada malam harinya seluruh anggota keluarga biasanya akan berkumpul di rumah orangtua atau yang dituakan atau juga di rumah makan untuk makan malam bersama.Besoknya, tanggal 1 tahun 1 berkumandanglah salam (dalam dialek Hokkian): Sin Chun Kiong Hi, Thiam Hok Thiam Siu, Ban Shu Ju I yang berarti: “Salam bahagia di musim semi yang baru, semoga bertambah rezeki dan panjang usia, semoga segala yang dicita-citakan dapat tercapai.” Pada hari sin cia, anak-anak/cucu-cucu mengenakan baju baru kemudian menyampaikan ucapan selamat kepada ayah-bundanya atau kakek-neneknya. Dan mereka akan mendapatkan ang pao (bungkusan merah) berisikan uang yang diterima dengan penuh sukacita.
Dari ritual sin cia di atas, sebenarnya banyak terkandung nilai-nilai luhur yang berlaku universal, yang salah-satunya adalah: rasa persaudaraan! Nah! Di sinilah ada “titik temu” antara tradisi sin cia dengan persekutuan Kristen. Bukankah di dalam Alkitab juga diajarkan rasa persaudaraan di antara sesama (Mazmur 133:1)?!
Maka mulai hari ini dengan semangat persaudaraan sin cia tahun ini, marilah kita mencontoh nilai yang luhur itu bagi kehidupan dan persekutuan Kristen kita. Bagaimanakah caranya? Saling mengasihi! (Matius 7:12; 22:37-39, Lukas 9:23-24). Mengasihi tidak hanya ingin dikasihi, diperhatikan, dihargai dan dihormati hak-hak kita. Akan tetapi, mengasihi juga berarti melakukan kewajiban-kewajiban kita dengan tulus ikhlas, yaitu: berkorban, menyangkal diri, dan mengendalikan nafsu (baik nafsu birahi kita, nafsu marah kita, nafsu dengki, membenci, atau tidak puas diri kita).Akhirnya, karena perayaan sin cia sekarang ini sudah berubah ke arah silahturahmi yang tidak terbatas antar seisi keluarga saja, tapi sudah berkembang kepada rekan-rekan sekantor, para relasi serta tetangga sekitarnya tanpa membedakan suku dan agama, maka melalui kesempatan di hari bahagia ini saya ingin mengucapkan kepada Anda semua: “Sin Chun Kiong Hi, Thiam Hok Thiam Siu, Ban Shu Ju I !”
Dari ritual sin cia di atas, sebenarnya banyak terkandung nilai-nilai luhur yang berlaku universal, yang salah-satunya adalah: rasa persaudaraan! Nah! Di sinilah ada “titik temu” antara tradisi sin cia dengan persekutuan Kristen. Bukankah di dalam Alkitab juga diajarkan rasa persaudaraan di antara sesama (Mazmur 133:1)?!
Maka mulai hari ini dengan semangat persaudaraan sin cia tahun ini, marilah kita mencontoh nilai yang luhur itu bagi kehidupan dan persekutuan Kristen kita. Bagaimanakah caranya? Saling mengasihi! (Matius 7:12; 22:37-39, Lukas 9:23-24). Mengasihi tidak hanya ingin dikasihi, diperhatikan, dihargai dan dihormati hak-hak kita. Akan tetapi, mengasihi juga berarti melakukan kewajiban-kewajiban kita dengan tulus ikhlas, yaitu: berkorban, menyangkal diri, dan mengendalikan nafsu (baik nafsu birahi kita, nafsu marah kita, nafsu dengki, membenci, atau tidak puas diri kita).Akhirnya, karena perayaan sin cia sekarang ini sudah berubah ke arah silahturahmi yang tidak terbatas antar seisi keluarga saja, tapi sudah berkembang kepada rekan-rekan sekantor, para relasi serta tetangga sekitarnya tanpa membedakan suku dan agama, maka melalui kesempatan di hari bahagia ini saya ingin mengucapkan kepada Anda semua: “Sin Chun Kiong Hi, Thiam Hok Thiam Siu, Ban Shu Ju I !”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar